Waaaaa
duuhh… sungguh hal yang menyebalkan ketika hasil karya inovasi dikatakan sebuah jiplakan atau dituduh mencuri source code program. Ketika dgn kata2 tak bisa, maka klarifikasi tertulis mutlak diperlukan.
Beberapa bulan yang lalu, tuduhan tak berdasar kuat (yg mendekati fitnah) saya terima. Untungnya banyak teman2 saya yg memberitahukan perihal email hujatan ini tersebar ke milis2, dan pengecutnya email ini tidak di CC ke saya alias beredar secara undergound tanpa klarifikasi. Efeknya luar biasa, aliran email dan komentar terus mengalir sampai saat ini. Ya, semua tentang software mark reader, yg notabene hanya 1 dari sekian banyak software yg sy buat tidak lebih dari 4 bulan saja.
Begini potongan yg tertulis di milis, di posting oleh Arif Rahmat, Pembuat/Dedengkot DMR :
Sudah lama kami tidak menyebut ITB dalam setiap media yang berbau pemasaran, tapi rasanya panas juga kuping ini mendengar nama ITB tercoreng (oleh produk kacangan) dan DMR menjadi tertuduhnya. BTW, produk ITB itu apa sih? Apakah riset yang dilaksanakan di ITB, atau hasil pekerjaan alumnus ITB? Soalnya (sekalian menjawab pertanyaan Bung Rudi di thread satu lagi) SMR dibuat setelah Dimas (IF 00) udah lulus dari ITB. Dulu ketika awal DMR dipasarkan, Dimas dipercaya Pak Iping (IF) untuk memasarkan produk ClickReport sekalian TA sama beliau. Entah karena jualannya kurang berhasil, atau usahanya kurang rajin, tiba-tiba dia kabur tak jelas ke mana, kabarnya lari ke Surabaya (tahun 2005).
Intinya, SMR itu muncul sebagai saingan DMR. Entah dulu dapat bocoran source code atau nggak (karena peluang memang ada), yang jelas mereka tinggal meniru, bukan merancang dari awal. Entah apa ada unsur balas dendam ke Pak Iping gitu?
Duh… tuduhannya kasar banget… Saya memaafkan, tetapi tidak melupakan! Waktu berputar, teknologi berkembang, produk suatu saat pasti akan mati tergilas inovasi, sebagaimana opscan dgn teknologi sensor infrared yang tergilas scan image ini, tetapi roda bisnis justru harus semakin berkembang, mungkin saat ini adalah saingan, besok adalah rekanan.
Tak ada cara lain bagi saya untuk membuktikan, bahwa SMR adalah karya inovasi dan bukan menjiplak, apalagi mencuri source code. Satu2nya cara adalah dengan mempublish hal ini.
Gambar LJK DMR Ukuran A5 – File *.gif dirotasi dgn software ACD Foto Canvas




Gambar Hasil Pembacaan :




Keterangan : Gbr ini menunjukkan pembacaan file gambar LJK DMR (Digital Mark Reader) yang dirotasikan pada berbagai sudut, dimana Justru DMR Belum Mampu Memberikan Tingkat Akurasi Seperti Ini Pada Format LJK nya Sendiri. SMR hanya menggunakan 4 kotak pojok dan 1 kotak penanda samping, tanpa menggunakan garis tebal persegi pada frame LJK nya.
Maaf, saya blak-blak an krn kesal… jika ini ironis… ini hanya usaha sy memadamkan api yg disulut!
Oya, satu lagi, SMR tidak pernah menggunakan ITB sbg media promosi, tp orang2 menyebutnya buatan Orang/Alumni ITB, benar kan? yang jelas… ITB besar krn kiprah alumni2nya… Jd seandainya pun bilang buatan ITB, apa salahnya?